Rumah di tepian bukit (Foto/Prayogi)

Pram tahu betul definisinya di mata Elsa. Bukan dermaga yang dituju, bukan pula jangkar yang menahan. Ia adalah rumah.

Rumah tempat yang hangat, selalu ada di peta ingatan, dan yang paling penting, tidak pernah menuntut janji menetap. Tempat di mana kunci cadangan selalu tersembunyi di dekat pot bunga anggrek di teras, siap diakses kapan saja, bahkan saat pemiliknya sedang sibuk memproses kekosongan di dalam.

Hubungan mereka tidak pernah melewati batas persahabatan, setidaknya batas yang dikenali oleh orang lain. Bagi Pram, batas itu sudah lama sirna, melebur menjadi tembok-tembok penahan yang ia bangun sendiri untuk melindungi perasaannya yang rapuh. Ia memilih untuk tetap berada di balik tembok itu, menjaga agar perannya tidak pernah bergeser.

Telepon terkadang berdering di malam yang sepi, selalu nama Elsa yang muncul di layar, disertai bunyi notifikasi yang sudah ia hafal ritmenya.

"Pram," suaranya serak, nadanya seperti anak hilang yang menemukan mercusuar. "Aku bertengkar hebat sama Adrian. Malam ini benar-benar kacau. Please temani aku. Sebentar aja, janji."

Pram menghela napas, bukan karena kesal, melainkan karena ia tahu badai sudah dekat dan tugasnya sebagai pelindung akan dimulai lagi. 

"Dibuka lagi ya blokiran WA ku, ada apa?" jawab Pram, suaranya tenang, datar, seperti lantai kayu yang tidak pernah mengeluh meski diinjak berkali-kali.

Elsa bercerita, membawa badai dan kekalahan. Tergambar rambutnya berantakan, matanya sembab, auranya dipenuhi energi negatif dari pertengkarannya dengan Adrian. Ia tanpa beban meluapkan isi hatinya kepada Pram. 

Ia bercerita panjang lebar, detail, tanpa sensor, tentang Adrian tentang bagaimana pria itu lupa tanggal penting mereka, tentang betapa protektifnya Adrian, bahkan tentang rencana pernikahan yang kian terasa jauh.

Pram mendengarkan. Ia sembari menyeduh jeruk hangat, membiarkan aroma herbal yang menenangkan mengisi ruangan. Ia menyalakan lampu duduk temaram, menciptakan suasana yang intim namun aman. Ia memberikan nasihat yang jujur, tulus, dan dewasa, seolah-olah ia adalah seorang konsultan hubungan. 

Ia tidak pernah memanfaatkan momen rapuh itu untuk menyelinap masuk ke hati Elsa.

Sebab ia bernama rumah, tugasnya adalah memulihkan, bukan merebut.

Hatinya? Jelas sakit. Setiap kalimat yang keluar dari bibir Elsa adalah sayatan tipis yang ia biarkan mengering tanpa diobati. Ia melihat Elsa merancang masa depan dengan pria lain di hadapannya, dan ia harus tersenyum, mengangguk, bahkan sesekali menyumbang ide kapan bulan madu.

"Menurutmu, celana ini cocok nggak buat kado ulang tahun Adrian ?" tanya Elsa suatu sore, saat ia sedang meminta rekomendasi celana untuk kado ulang tahun Andrian. Dari kejauhan, tampak Elsa bahagia dan bersemangat setelah mendapat jawaban Pram.

Pram menatap siluet Elsa kala itu dari layar ponsel, Cantik. Terlalu indah untuk menjadi milik orang lain.

"Cocok. Elegant dan sopan. Tapi coba yang biru itu, El. Itu warna keberuntunganmu," kata Pram. Ia ingat, ia pernah membelikan gaun biru itu sebagai kado ulang tahun Elsa, yang kemudian dipakai Elsa untuk kencan pertama dengan Adrian.

Elsa tersenyum cerah, senyum yang tidak pernah ditujukan untuk Pram sebagai seorang kekasih. Senyum yang diberikan kepada seorang fasilitator kebahagiaannya.

"Kamu memang yang terbaik, Pram. Bintang penolongku. Aku pamit dulu, Adrian udah di depan, dia jemput," ucapnya, tergesa-gesa.

Dan sama seperti biasanya, Elsa pergi. Cepat, setelah energinya terisi penuh. Rumah itu kembali sepi, hanya menyisakan aroma parfum vanilla Elsa dan cangkir teh yang masih setengah penuh dalam memori Pram.

Pram memejamkan mata, membiarkan luka kecil itu berdenyut sejenak. Ia sadar, statusnya hanyalah ruang tunggu, tempat persinggahan singkat dari kekacauan dunia luar. 

Ia tidak marah pada Elsa yang egois. Ia hanya marah pada dirinya sendiri yang tidak bisa berhenti menjadi rumah.

Ia mengambil cangkir kosong itu dan membawanya ke dapur. Mencucinya perlahan, lalu kembali menyapa novel kesayangannya.

Ia tahu, cepat atau lambat, Elsa akan kembali. Dengan cerita baru, air mata baru, dan harapan yang sama. Dan saat itu terjadi, ia akan ada. Selalu.

Sebab ia bernama rumah, tugasnya adalah menunggu, dan selalu menyediakan tempat untuk pulang.